Bootlegging is Not (Always) a Crime

Bootleg ≠ Fake. Tak semua pembajakan itu haram hukumnya. Pada kasus tertentu, “pembajakan” bisa berubah menjadi bentuk apresiasi.


Izinkan saya untuk mengucapkan terima kasih terlebih dulu kepada The Panturas dan juga Sailboat Records. Bukan tanpa alasan, karena tweet mereka berhasil menjadi trigger diskusi mengenai t-shirt bootleg dan fake/KW di kalangan warganet dan juga alasan kenapa ide tulisan ini tercipta. Sepasang tweet di mana The Panturas secara terbuka melakukan call out pada brand yang membajak dan menjual desain kaos mereka, lalu direspon oleh Sailboat Records sekaligus mengembangkan narasi tersebut menjadi semakin seru untuk disimak dan ditanggapi.

Tentu saja, keberadaan t-shirt bootleg dan fake bukan merupakan sesuatu yang baru di Indonesia. Keduanya sudah beredar sejak entah kapan dan bisa dengan mudah kamu temui. Baik itu di lapakan pinggir jalan, iklan-iklan di sosial media, hingga di berbagai marketplace tempat kamu berhedon ria. Keberadaannya sudah sangat menjamur dan tak terbendung.

Tapi di sisi lain, saya menemukan sesuatu yang menarik pada momen keriuhan kemarin. Setelah coba ditelaah lebih jauh pada hasil respon yang hilir-mudik, saya sampai pada sebuah kesimpulan. Di mana terasa masih ada miskonsepsi yang terjadi antara terminologi bootleg dan fake. Keduanya seringkali dianggap sebagai sesuatu yang sama. Padahal berdasarkan pengetahuan terbatas saya, ada perbedaan yang cukup kentara di antara keduanya.

Perbedaan Antara Bootleg dan Fake

Sebelum lebih jauh membahas perbedaan antara bootleg dan fake, mari kita sepakati dahulu bersama terkait apa yang dimaksud dengan merchandise official. Suatu merchandise dikatakan official jika memang diproduksi berdasarkan izin dan sepengetahuan musisi terkait. Secara fisik, biasanya tersemat sablon/tag tertentu yang menandakan kalau apa yang diproduksi merupakan merchandise official.

Sedangkan merchandise fake adalah kebalikannya. Selain dirilis tanpa sepengetahuan ataupun izin dari musisi, secara kualitas produk pun tak bisa dipertanggungjawabkan. Harga jual yang murah jadi daya tarik terbesar dari keberadaan merchandise fake ini.

Meskipun sebenarnya secara produksi dilakukan secara asal-asalan lengkap dengan QC seadanya. Sehingga menghasilkan produk dengan posisi desain yang miring, sablonnya berantakan, bahan kaos yang kurang nyaman, ataupun beragam masalah lainnya.

Secara desain, para faker ini menduplikasi dari merchandise yang dirilis secara resmi sebagai salah satu cara licik untuk mengecoh para pembeli, karena dipasarkan seolah-olah merupakan barang resmi. Tentunya bertujuan untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.

Meskipun mengetahui fakta tersebut, ironisnya masih banyak yang membelinya karena dianggap sebagai sebuah opsi mudah dan murah untuk memiliki merchandise dari musisi kesukaan. Entah karena kurangnya edukasi atau simply denial aja.

Laman penjualan merchandise fake Morfem di Shopee

Laman penjualan merchandise fake Morfem di Shopee.

Buktinya, saya berhasil menemukan sebuah lapak di marketplace yang menjual merchandise “official” Morfem dengan desain yang sama persis, tapi dijual setengah harga dari harga jual resminya. Menyedihkannya, produk bajakan tersebut berhasil terjual sebanyak ratusan buah. Angka yang fantastis untuk penjualan merchandise dan menggambarkan seberapa banyak kerugian yang didapat oleh pihak musisi.

Sebuah hal yang diakibatkan karena penggemarnya memilih untuk membeli melalui lapak antah-berantah dibanding melalui toko yang termasuk sebagai jalur distribusi resmi.

Sedangkan merchandise bootleg memiliki attitude dan motif berbeda dibanding merchandise fake. Desain dari produk yang dibuat bukan merupakan replika dari apa yang dibuat oleh sang musisi, berbentuk sebuah fanmade yang didesain dengan gaya sendiri.

Baik menggunakan aset foto existing yang tersebar di internet lalu diolah sedemikian rupa, ataupun desain yang memang dibuat from the ground up. Selain itu, ada juga beberapa bootlegger yang menjalin komunikasi terlebih dahulu dengan sang artis, untuk meminta izin atau sekedar berkorespondensi sebelum akhirnya merilis produk bootleg tersebut. Sebuah attitude pembeda yang kentara dibanding para produsen merchandise fake.

Merchandise bootleg biasanya secara terang-terangan dipasarkan dengan keterangan jelas sebagai unofficial merchandise. Tak seperti merchandise fake yang biasanya diberi embel-embel “kualitas premium” atau lainnya untuk memberi kesan sebagai barang official.

Secara garis besar, bisa disimpulkan bahwa bootleg dan fake memang sama-sama diproduksi oleh individu atau kelompok di luar lingkaran si musisi itu sendiri. Tapi, apakah hal tersebut cukup untuk dijadikan alasan dan membuat keduanya menjadi sesuatu yang sangat diharamkan dan dibenci oleh semua musisi?

Sebelum menjawab dan mengambil kesimpulan terkait hal tersebut, saya ingin mengajakmu untuk melihat sisi lain yang mungkin bisa dipertimbangkan sebagai pandangan alternatif.

Bootleg Sebagai Bentuk Apresiasi

Sepanjang masa aktifnya, Fugazi sebenarnya tak pernah sama sekali merilis merchandise kaos secara resmi. Anehnya, saat ini kamu bisa dengan mudah menemukan berbagai kaos bertuliskan nama pentolan post-hardcore tersebut dengan beragam desain. Sebenarnya itu semua merupakan ulah dari para bootlegger yang membuat merchandise unofficial dari Fugazi. Salah satu yang paling terkenal adalah JSR Merchandising Group pada era 90an.

Sebenarnya mereka sempat ditegur langsung oleh Ian MacKaye terkait keberadaan merchandise bootleg dari Fugazi tersebut. Namun alih-alih kapok, setelahnya JSR Merchandising Group malah membuat desain lain dengan tulisan ‘This is Not a Fugazi T-Shirt’

Kaos bootleg “resmi” Fugazi rilisan JSR Merchandising Group

Kaos bootleg “resmi” Fugazi rilisan JSR Merchandising Group.

Pentolan Dischord Records tersebut kemudian terkesima oleh kecerdikan sang bootlegger dan pada akhirnya “luluh” untuk membuat sebuah kesepakatan bisnis. Sekaligus merekognisi kalau desain tersebut merupakan satu-satunya kaos bootleg Fugazi yang diakui keberadaannya oleh Ian MacKaye sampai saat ini.

Untuk di ranah lokal, ada juga sebuah brand bootleg yang pada akhirnya mendapat rekognisi dari si musisi melalui produk yang dibuatnya. Brand tersebut adalah Pass The Peas (PTP), sebuah brand yang dikenal memproduksi merchandise dari musisi di ranah jazz, brazillian music, japanese music, dan lainnya. Berawal dari kecintaan personal untuk memberikan apresiasi kepada para musisi kesukaanya, ternyata apa yang diproduksinya malah berhasil membuatnya terkoneksi dan berinteraksi langsung dengan sang musisi.

Apresiasi personil Fishmans terhadap Pass The Peas

Merchandise bootleg Fishmans buatan Pass The Peas (PTP) diapresiasi langsung oleh personilnya.

“Salah satu yang paling berkesan adalah ketika drummer-nya Fishmans, Kin-Ichi Motegi, pakai baju PTP yang ‘Night Cruising’ -artikel produk yang memang didedikasikan untuk Fishmans. Surreal banget rasanya. Dia bilang happy banget dapet baju itu. Aku sampai cirambay pas dapet chat dan fotonya.

Ada lagi momen lain ketika Cornelius ke Indonesia. Dia pengen baju PTP karena liat Ricky Virgana (WSATCC) pake, bahkan sampai di-post ke IG Stories-nya. Setelahnya dia kepoin tuh katalog PTP, dan momen surreal lainnya adalah ketika dia pengen ngasih kaos desain bergambar Haruomi Hasono ke Hasono-san langsung. Aneh banget lah pokoknya,” ungkap Tama.

Pada beberapa kesempatan juga PTP ternyata berkorespondensi langsung dengan musisi terkait sebelum memproduksi sebuah desain. Meskipun hal tersebut nggak selalu dilakukan.

“Aku pernah kolaborasi sama Margo Guryan. Waktu itu kita kontak karena IG-nya masih aktif dan ternyata yang pegang anaknya. Akhirnya terjadi kesepakatan bisnis dan sepakat pakai sistem sharing profit. Selain itu, ada juga Azymuth dan Cortex yang sempet kita kontak. Biasanya kalau musisinya masih aktif dan ada representatifnya, pasti kita kontak.

Semua itu kembali lagi ke manifesto dari PTP, yaitu ‘another way to pay a tribute to our idol.’ Karena sedari awal tujuannya memang buat pay a tribute aja. Jadi menurutku penting untuk jalin komunikasi sebelumnya kalau memang musisi yang bakalan di-bootleg itu masih aktif atau ngeluarin merchandise sendiri,” tambahnya.

Sebagai orang timur yang sangat menjunjung tinggi adab kesopanan, tentunya attitude tersebut juga seharusnya dilakukan oleh para bootlegger lokal lainnya. Sebagai bentuk respect kepada sang idola. Sedangkan terkait kultur merchandise bootleg di ranah lokal, Tama punya pendapatnya sendiri.

“Menurutku, mungkin kultur bootleg di Indonesia belum seterbuka di US atau di negara lain. CMIIW. Kalau di sana banyak banget yang jualan bootleg dan dapet apresiasi dari audiensnya, karena sebagai bentuk apresiasi atau fanatisme ke suatu band aja.

Makanya banyak merchandise yang dibuat itu memang musisi yang udah nggak aktif lagi, emang nggak ngeluarin merch, atau karena harganya udah terlalu mahal. Belum lagi masih banyak yang belum bisa membedakan pengertian antara term bootleg dan fake, itu jadi kekhawatiran aku juga, sih.

Tapi banyak banget kok brand bootleg yang bagus di sini, kayak Conbini, Teenagebomb, dan lainnya. Keliatan banget kok antara yang beneran suka dengan yang nge-fake aja. Kalau yang beneran suka itu kerasa lebih sincere aja gitu,” ungkap Tama soal kultur bootleg di Indonesia.

Siapa sangka sesuatu yang dimulai sebagai pengisi waktu luang di era pandemi, bisa membawa PTP sejauh ini. Bahkan bukan hanya membuat desain bootleg, mereka juga telah bekerja sama dengan beberapa band lokal dan internasional untuk menggarap official merchandise-nya. Beberapa musisi tersebut di antaranya adalah Pearl & the Oysters, Jacuzzi Boys, Nude Party, WSATCC, Dongker, dan lainnya.


Pada dasarnya, merchandise bootleg dan fake merupakan dua hal yang berbeda. Meskipun terdapat kesamaan dari sisi produksi yang masuk kategori unofficial, ada beberapa perbedaan dari sisi attitude, proses, dan juga motif ketika melakukannya. Merchandise bootleg jika mengikuti koridor tertentu bisa jadi suatu bentuk apresiasi lain sebagai penggemar untuk para musisi idola.

Karena memiliki desain yang personalized dan unik berdasarkan karakter dan kesukaan dari si pembuatnya. Meskipun ada juga beberapa pembahasan lain yang pada akhirnya menghasilkan bootleg selalu berada di ranah abu-abu. Sedangkan untuk merchandise fake, tak ada hal baik yang dihasilkan darinya.

Jadi, apakah merchandise bootleg itu sepatutnya diharamkan selayaknya merchandise fake? Atau ada pertimbangan lain yang membuatmu bisa menerimanya? Untuk jawabannya, saya serahkan pada pendapatmu masing-masing.


Tulisan ini sebelumnya telah dipublikasikan di L.C.D. (Life. Consumed. Death.) Zine sebagai rilisan eksklusif dalam menyambut Bandung Zine Fest 2024. | https://consumedmagazine.com/product/lcd-zine/